Taruni Perhotelan Alya Syahnaz Menjadi Pembina Upacara SMKN 1 Jeunieb

Kebiasaan setiap pagi Senin saat upacara bendera yang menjadi pembina upacara adalah kepala sekolah dan dewan guru. Namun kali ini berbeda, karena seorang taruni menjadi pembina upacara pada Senin (12/1/2026).

Kebahagiaan dan rasa puas terpancar di wajah Alya Syahnaz, taruni kelas X Perhotelan SMK Negeri 1 Jeunieb, Bireuen, ketika dapat menyelesaikan tugasnya sebagai pembina upacara. Alya Syahnaz untuk pertama kalinya menjadi pembina upacara tampil dengan penuh percaya diri.

Alya Syahnaz tanpa rasa sungkan melangkah maju ke tengah lapangan upacara, ketika protokol mempersilahkan pembina memasuki lapangan upacara. Alya Syahnaz menyampaikan tentang “Stop Controlling Mindset” 

Dalam amanatnya, Shahnaz mengajak seluruh peserta upacara untuk menyadari bahwa rasa lelah sering kali bukan disebabkan oleh aktivitas fisik, melainkan oleh pikiran yang terlalu penuh. Ia menekankan bahwa hidup kerap terasa berat bukan karena keadaannya, tetapi karena keinginan manusia untuk mengontrol semua hal.

Lebih lanjut, Shahnaz menyampaikan pembahasan tentang Burnt Toast Theory, yaitu pandangan bahwa kejadian kecil yang tidak sesuai rencana belum tentu merupakan hal buruk. Ia mencontohkan keterlambatan akibat hal sepele yang bisa saja menjadi cara Allah SWT melindungi seseorang dari peristiwa yang tidak diinginkan. Oleh karena itu, daripada larut dalam emosi dan kekesalan, peserta upacara diajak untuk mengganti sikap tersebut dengan rasa syukur.

Selain itu, Shahnaz juga mengingatkan bahwa keinginan untuk menjalani hidup yang serba sempurna justru dapat membuat seseorang mudah lelah dan tidak pernah merasa puas. Berusaha tetaplah penting, namun harus dilakukan secara proporsional dan diiringi dengan sikap berserah diri kepada Allah SWT.

Melalui amanat ini, seluruh warga sekolah diajak untuk memahami bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan, tetapi setiap individu selalu dapat mengendalikan cara berpikir dan sikap dalam menghadapi berbagai keadaan. Amanat tersebut diharapkan dapat menjadi pengingat bagi peserta didik dan pendidik untuk menjalani proses belajar dengan pikiran yang lebih tenang dan hati yang lebih lapang.

Setelah Alya  Syahnaz selesai memberikan amanatnya, semua peserta upacara baik siswa dan guru memberikan tepuk tangan serentak tanpa ada yang komando. 

Terima kasih Alya Syahnaz. Kamu cukup berani dan lugas dalam bicara. Tentu ini menjadi contoh bagi taruna-taruni lainnya untuk menjadi pembina upacara selanjutnya.

Secara faktual,  semua anak-anak memiliki beragam  kemampuan, tinggal bagaimana kita sebagai gurunya memberi mereka kesempatan dan latihan. Semua siswa harus siap mental dan siap badan ketika diberi tugas dan dapat melaksanakan amanah yang diberikan.

Penulis Dahliani

Editor Yuanita

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama