Nilai TKA Jeblok, Penyebabnya: Sekadar Ikutan dan Gaya Hidup Instan dan

Hasil nilai Tes Potensi Akademik (TKA) yang diumumkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menunjukkan penurunan yang cukup signifikan. Pada jenjang SMA, nilai rata-rata untuk Bahasa Indonesia tercatat 57,39, Matematika 37,23, dan Bahasa Inggris hanya 26,71.

Sementara itu, untuk jenjang SMK, nilai rata-rata TKA Bahasa Indonesia 53,62, Matematika 34,74, dan Bahasa Inggris

Apakah nilai TKA yang jeblok ini gara-gara soalnya terlalu sulit atau ada faktor lain?

Melansir Kompas.com, 12 Januari 2026 ( https://www.kompas.com/edu/read/2026/01/05/085500171/2-faktor-nilai-tka-siswa-sma-smk-jeblok-salah-satunya-karena-tiktok-?page=2.), Guru Besar Sosiologi Pendidikan Universitas Airlangga, Prof Dr Tuti Budirahayu, mengungkapkan beberapa faktor yang memengaruhi rendahnya nilai TKA.

Menurut Prof Tuti, banyak siswa yang menganggap bahwa TKA bukanlah ujian yang menentukan masa depan mereka. Berbeda dengan Ujian Nasional (UN) atau SNBP (Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi) yang seringkali dianggap sebagai penentu nasib.

Lebih lanjut, Prof. Tuti, menjelaskan dua jenis ujian tersebut dikenal sangat efektif membuat siswa belajar dengan sungguh-sungguh dan menjadi alat seleksi yang cukup baik untuk menyaring siswa-siswa yang berprestasi. Bahkan saking menakutkannya jenis ujian tersebut, cara-cara curang ditempuh oleh siswa yang memang tidak memiliki moral dan etika baik untuk. Demi dapat lolos dari dua jenis ujian tersebut. 

Faktor kedua menurut Prof Tuti adalah pengaruh era digital yang sangat kuat terhadap perilaku belajar siswa masa kini. Banyak siswa yang terpapar oleh gaya hidup instan layaknya yang muncul di media sosial. Di mana mereka sering melihat orang-orang yang sukses dalam waktu singkat. Seolah-olah kesuksesan itu bisa diraih dengan mudah.

Menurut Dosen FISIP Unair tersebut, siswa SMA saat ini telah mengalami distraksi digital melalui paparan gawai, baik dalam bentuk tayangan di media sosial, seperti Instagram dan TikTok atau game, yang melemahkan daya kritis, konsentrasi jangka panjang yang juga melemah, dan juga melemahkan ketekunan membaca serta berpikir analitis.

Selain faktor-faktor tersebut, Prof Tuti juga menyoroti masalah yang lebih mendalam terkait dengan kualitas pendidikan di sekolah-sekolah di Indonesia. Menurutnya, TKA bisa dianggap sebagai cermin dari kualitas pembelajaran yang ada di sekolah-sekolah tersebut. Jika kualitas pengajaran rendah, maka hasil ujian yang siswa peroleh juga tidak akan memuaskan. Hal ini bisa dilihat sebagai indikasi bahwa metode pembelajaran yang digunakan selama ini belum cukup efektif dalam membantu siswa memahami konsep secara mendalam.

Jika ini yang terjadi maka harus ada upaya reformasi pendidikan besar-besaran. Di mana metode dan orientasi pembelajaran harus ditata ulang. Tidak lagi siswa disuguhi materi belajar hafalan tetapi sudah harus menuju model pembelajaran yang menekankan penalaran, pemahaman konsep dan cara-cara berpikir tingkat tinggi (High Order Thinking Skill/HOTS).

Solusi meningkatkan nilai TKA 2026 Ia mengatakan salah satu langkah yang bisa diambil adalah menyadarkan kembali siswa akan pentingnya makna belajar

Siswa perlu mendapatkan bimbingan agar dapat mengaitkan materi pelajaran dengan isu-isu aktual yang mereka hadapi dalam kehidupan nyata. Termasuk tantangan yang mereka akan temui di dunia kerja. Prof Tuti juga menambahkan pentingnya literasi digital secara kritis.

Agar siswa dapat memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran mereka, bukan justru terjebak dalam distraksi yang merugikan.

Selanjutnya, reformasi pendidikan yang mendalam perlu dilakukan.

Menata ulang kualitas guru-guru sebagai SDM utama dalam meningkatkan kualitas pendidikan atau anak didiknya. Serta meminimalisir kesenjangan atau ketimpangan pendidikan antarwilayah atau daerah, antarsekolah negeri dan swasta, dan antarsekolah yang dikelola oleh kementerian yang berbeda,” imbuhnya. Prof Tuti menekankan pentingnya menguatkan sinergi antara sekolah, orang tua, dan pemerintah daerah dalam memberikan pendampingan belajar pada siswa

Menurutnya, program-program mentoring dan konseling di sekolah perlu diperkuat untuk membantu siswa yang membutuhkan perhatian khusus, baik itu dalam bentuk pendampingan akademik maupun masalah psikologis.

"Kerja sama antara semua pihak ini akan menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan siswa secara menyeluruh, baik secara akademik maupun emosional, pungkasnya.

Editor Fodic

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama