Bimag Hari Jumat. PESAN KEPSEK : IKHLAS DALAM SETIAP LANGKAH IBADAH

 


Ikhlas adalah fondasi utama dalam setiap amal. Tanpa keikhlasan, ibadah hanya menjadi gerakan dan ucapan tanpa makna. Ikhlas berarti melakukan sesuatu semata-mata karena Allah, bukan karena ingin dipuji, dihargai, atau dilihat oleh manusia.

Ada beberapa tanda seseorang memiliki sikap ikhlas dalam beribadah:

  1. Niat yang lurus, hanya mengharap ridha Allah.
  2. Konsisten, tetap beribadah walau tidak ada yang melihat.
  3. Berusaha dengan sungguh-sungguh, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.
  4. Berharap pahala, bukan pujian manusia.

Jumat pagi itu terasa begitu teduh dan penuh keberkahan. Sejak matahari mulai meninggi, para guru dan siswa telah berkumpul di 

lapangan sekolah untuk melaksanakan kegiatan rutin membaca Surah Yasin bersama. Lantunan ayat-ayat suci menggema dengan khusyuk, menghadirkan suasana damai yang menyejukkan hati. Setiap bacaan mengalir lembut, seakan menjadi pengingat bahwa di tengah kesibukan belajar dan mengajar, ada ruang yang harus selalu diisi dengan mengingat Allah.

Setelah yasinan selesai, kepala SMK Negeri 1 Jeunieb Ibu Ermawati ,S.Kom.,M.Kom melangkah ke depan untuk menyampaikan tausiah singkat. Dengan suara yang lembut namun tegas, beliau mengawali dengan ucapan syukur atas kesempatan yang masih Allah berikan untuk berkumpul dalam kebaikan. Tema tausiah pagi itu adalah ikhlas dalam beribadah.

Beliau menjelaskan bahwa ikhlas adalah kunci diterimanya setiap amal. Ibadah bukan sekadar rutinitas atau kewajiban yang dilakukan karena takut pada aturan, tetapi harus lahir dari hati yang tulus. “Kita membaca Yasin bukan karena ingin dipuji sebagai siswa yang saleh atau guru yang taat,” ujar beliau, “melainkan semata-mata karena kita ingin mendekatkan diri kepada Allah.”

Dalam penjelasannya, beliau mengingatkan bahwa sering kali manusia terjebak pada penilaian orang lain. Ada yang rajin beribadah ketika dilihat banyak orang, tetapi lalai ketika sendirian. Padahal, Allah Maha Melihat setiap niat yang tersembunyi di dalam hati. Ikhlas berarti tetap berbuat baik walau tidak ada yang memuji, tetap menjalankan kewajiban walau tidak ada yang mengawasi.

Beliau juga mengajak seluruh siswa untuk menanamkan keikhlasan dalam belajar. Belajar pun adalah bagian dari ibadah. Ketika seorang siswa belajar dengan sungguh-sungguh karena ingin membahagiakan orang tua dan mencari ridha Allah, maka setiap lelahnya bernilai pahala. Begitu pula guru yang mengajar dengan hati tulus, bukan hanya untuk menggugurkan tugas, tetapi untuk mencerdaskan generasi bangsa.

Tausiah singkat itu ditutup dengan pesan yang menyentuh: hidup ini tidak selalu mudah. Akan ada ujian, kesulitan, bahkan kekecewaan. Namun, jika semua dijalani dengan hati yang ikhlas, maka segalanya akan terasa lebih ringan. Keikhlasan menjadikan hati lapang, jiwa tenang, dan langkah ibadah semakin bermakna.


Penulis     :Hermansyah

Editor       :Humas

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama