Kegiatan Dinul Islam 1447 Hijriah / 2026 Masehi di SMK Negeri 1 Jeunieb tahun ini mengusung tema “Menumbuhkan Adab, Mewujudkan Aneuk Meutuah Menjadi Generasi Berakhlak.” Tema tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari kecerdasan intelektual, tetapi juga dari kemuliaan akhlak peserta didik.
Acara berlangsung khidmat di Meeting Room Seulanga, ruang kebanggaan keluarga besar SMKN 1 Jeunieb. Kegiatan dipandu oleh Bapak Ramadhan selaku pembawa acara yang memimpin jalannya kegiatan dengan tertib dan penuh semangat. Acara secara resmi dibuka oleh Kepala Sekolah, Ibu Ermawati, S.Kom., M.Kom. Dalam arahannya, beliau mengajak seluruh guru dan siswa untuk proaktif mengikuti rangkaian kegiatan Dinul Islam hingga selesai. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan momentum pembinaan karakter agar siswa tumbuh menjadi generasi yang berilmu sekaligus beradab.
Tausiah dan bimbingan agama disampaikan oleh Tgk. Zulkarnaini Ismail, dewan guru Dayah Babussalam Al-Aziziyah. Mengawali tausiahnya, beliau menangkap gurat keletihan di wajah para siswa. Untuk mencairkan suasana, ia membagikan kutipan menarik dari Ustadz Abdul Somad tentang tiga jenis salam dalam Islam, yaitu: salam yang tidak perlu dijawab (salam dalam rukun shalat), salam yang tidak mengharapkan jawaban (salam saat berziarah kubur), dan salam yang dinantikan jawabannya dengan penuh semangat (salam sesama muslim saat berjumpa).Seketika, ruang pertemuan yang semula terasa lesu berubah menjadi hidup. Jawaban salam dari para siswa menggema dengan kompak dan penuh antusias setelah beliau mengulang sapaan salamnya. Suasana pun menjadi lebih hangat dan penuh energi.
Dalam ceramahnya, Tgk. Zulkarnaini menyampaikan sejumlah nasihat penting yang relevan bagi kehidupan pelajar. Pertama, tentang doa bercermin yang diajarkan Rasulullah SAW: “Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperindah ciptaanku, maka perindahlah akhlakku.” Doa ini mengajarkan bahwa memperbaiki akhlak adalah bentuk peningkatan diri yang sesungguhnya. Bukan hanya penampilan luar yang harus diperindah, tetapi juga sikap, tutur kata, dan perilaku sehari-hari.
Kedua, filosofi pohon kurma. Akar pohon kurma diibaratkan sebagai ilmu tauhid yang tertanam kuat dalam hati. Batangnya melambangkan ilmu fikih, yakni kemampuan memahami dan menjalankan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Sementara buahnya menggambarkan akhlak dan karakter seseorang. Jika akar kuat dan batang kokoh, maka buah yang dihasilkan pun akan manis serta bermanfaat bagi orang lain.
Ketiga, filosofi pintu terbuka dan tertutup. Pintu rezeki akan terbuka dengan ilmu dan akhlak yang baik, yang membuat seseorang mampu bertahan dan berkembang. Sebaliknya, pintu rezeki dapat tertutup karena kurangnya ilmu serta buruknya akhlak.
Keempat, filosofi buaya yang diibaratkan sebagai predator bagi remaja masa kini. Bacaan, tontonan, dan pergaulan yang tidak terkontrol dapat merusak akhlak. Karena itu, diperlukan pengawasan orang tua dan guru, serta kesadaran diri untuk memilih lingkungan yang positif.
Sebagai penutup, tausiah tersebut menegaskan pentingnya menjadi manusia berkarakter mulia, yang sukses tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat. Semoga kegiatan Dinul Islam ini menjadi langkah nyata dalam membentuk Aneuk Meutuah SMKN 1 Jeunieb yang berilmu, beradab, dan berakhlak mulia.
Penulis: Tuti A
Editor: Risky A



Posting Komentar